Bulu Perindu Sukma
https://encrypted-tbn1.google.com/images?q=tbn:ANd9GcSMuyclZRZF-E5jwtOBQjHBauWr8ApIiVvOzvpSnDtVTLyvMhvk_A
Bulu Perindu Asli Kalimantan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-Fv7AWicwQxEjb6RBiZPdxJk6f3a0kf3UzsUtfY31ZPlklRLl_qoAD3GY9Miab4XDiqCVlb_Nb13iBIuIX-rSKqVHyxct-Xnsa83I-O9U76iZnVBYW5ylc0Dr90p2oCggFfG4B1ij-2I/s1600/10342009_474747462656295_8105383633532268584_n.png
Minyak Bulu Perindu Asli Kalimantan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzUMJex7QVWJCx28j8rrVXPNLZNGi9OOAzN98jdliWAiyCR_aqvk87uZ-gw8dQ21e5P_pTRIquZLg4DJJkI1FgKUUCQN5mxAnlLUpdAFP4uHNx_RBuWoNUJPvSOq6Qj5Zh14WMysQeuHs/s1600/asal+usul+bulu+perindu.JPG
Di dalam blog ini akan saya jelaskan tentang khasiat dari Bulu Perindu yang melegenda yang khasiat utamanya adalah sebagai media pengasihan atau pemikat lawan jenis,baik Pria ataupun Wanita. Bulu perindu dapat mengatasi Solusi asmara anda yang kandas,pacar di ambil orang,cinta bertepuk sebelah tangan, dan semua yang berhubungan dengan asmara ..
Ciri - ciri keaslian
Jika di tetesi / dibasahi air dan di letakkan di atas lantai atau sehelai kertas, maka secara menakjub kan Bulu Perindu tersebut akan menggeliat - geliat laksana seekor cacing. Sepasang Bulu Perindu jika di dekatkan / dipertemukan ujung - ujungnya, secara ajaib akan berangsur - angsur saling mendekat dan melilit.
Testing Video Keaslian Bulu Perindu Sukma

mahar tingkat satu 300.000 sudah ongkos kirim
khasiatnya antara lain.. pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh,mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita.
mahar tingkat Dua 550.000 ribu sudah ongkos kirim
Khusus yang tingkat dua perbedaanya dengan tingkat satu adalah khusus bagi yang sudah berumah tangga atau sudah menikah, mengapa demikian karena power atau bulu perindu tingkat 2 mempunyai power 2x lebih besar dari tingkat 1 karena untuk orang yang sudah menikah rata-rata mempunyai aura yang sudah melemah karena faktor energi cakranya yang meredup akibat sudah seringnya berhubungan badan, jadi di butuhkan kekuatan ekstra untuk
menggunakan bulu perindu ini.
minyak bulu perindu mahar 650.000 sudah ongkos kirim
kekuatan minyak bulu perindu ini di fokuskan untuk mengembalikan pasangan yang selingkuh/pergi dengan laki-laki lain atau sudah tidak cinta lagi
khasiatnya antara lain..
pengasihan, pemikat lawan jenis, penarik simpati, disenangi atasan bawahan, pelaris usaha, pelet, cepat dapat jodoh,mengembalikan pasangan yang selingkuh, cocok untuk pria dan wanita tanpa ritual,puasa dan tanpa pantangan juga bisa di wariskan ke Anak CucuTanpa perlu panjang lebar berikut Testimoni para pemakai Bulu Perindu Sukma.


"Disclaimer : Hasil dan manfaat dari media bulu perindu ini akan berbeda-beda terhadap individualnya"

"Bagi Para Pria dan wanita Yang Ingin Berhasil Dalam Mengatasi masalah asmara,jodoh,perselingkuhan,agar di sayang atasan dan juga pelaris usaha,Bisa Menggunakan Bulu Perindu Ini Sebagai Solusi"
Gak banyak-banyak deh, Cuma mo bilang makasih kepada Bapak Hendro Susilo atas bantuannya. Kini istri saya semakin sayang dan perhatian , Buluh perindunya mantabs banget deh pokoknya.

Mondanamondan***@gmail.com
Muhammad Akbar
Karyawan Bank Swasta
Jl. Pahlawan No. 59 Bandung

Awalnya percaya nggak percaya sih. Namun ternyata gadis impianku kini bisa berada di sampingku. Buluh perindu dari Bapak Hendro Susilo memang bisa diandalkan.tempo beberapa hari sudah ada reaksinya Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Hendro S.

Rohmat _ megacom***@yahoo.co.id
SMK Tunggal Cipta, Sambirejo, Barukan, Manisrenggo


Ragu pada saat melihat-lihat di google karena memang sangat banyak yang menawarkan Buluh Perindu. Belum lagi komentar dari orang-orang yang bernada “miring” ditambah lagi dengan pengalaman pahit product sejenis yang tidak bereaksi apa-apa membuat saya menjadi malas. Tapi entah kenapa dengan Bapak hendro Susilo ini saya merasakan ada yang berbeda, akhirnya saya putuskan untuk mencoba menggunakan Buluh Perindu dari bapak Hendro Susilo dengan modal spekulasi. Kalau berhasil ya Alhamdulilah jika masih gagal ya sudahlah namanya juga usaha. Beberapa waktu sejak order Buluh Perindu datang sepertinya tidak terjadi perubahan namun saya tetap konsisten menjalanka Ibadah dan senantiasa berdoa dan tidak berapa lama akhirnya masalah saya terselesaikan. Usaha saya lancar jaya..

Dedi Mulyono
Pengusaha Bisnis Retail
Hallibrezekimelim***@yahoo.com
Jl.Jend.Sudirman no.32 Makasar


Mohon maaf kepada Bapak Hendro Susilo, awalnya saya sempat meremehkan Buluh Perindu dari Bapak karena pengalaman buruk saya menggunakan Buluh Perindu dari orang lain tidak berhasil. Berkat saran- saran dari Bapak untuk menjalankan amalan-amalan ibadah dengan konsisten akhirnya saya dapat menyelesaikan masalah yang mendera saya. Buluh Perindu dari Bapak Hendro Susilo memang manjur. Terimakasih
Titik _ titikban***@plasa.com
Jl. Gajah Mada, Bangil, Jawa Timur

Akhirnya Hutang Gue bisa gue cicil memang hebat resep dari mas Hendro Susilo. Maju terus Buluh Perindu nya ya mas.
Binsamdonysemestar***@plasa.com
Jl. Raya Cetho - Sukuh, Karanganyar

Mas Hendro, Masalah sudah terselesaikan, terimakasih banyak. Jempolan memang Buluh Perindunya. alhamdulillah istri saya yang pergi sudah kembali ke rumah dan keluarga kami semakin harmonis.
Roihanabadipuls***@ymail.com
Tuban, Jawa Timur

Bener-bener beda, syarat ndak repot, Buluh Perindunya bisa diwarisin lagi. Dimana coba bisa nemu produk seperti ini. Btw terimakasih kang Hendro Susilo. Masalah yang lalu kini tinggal masa lalu. Sekarang saatnya menikmati kehidupan yang baru. Suamiku sudah tidak suka selingkuh lagi, dan semakin betah di rumah setelah pulang dari kantor.
dewi _ mutia***@yahoo.com
Playen, Gunungkidul

Asalkan sabar dan terus berupaya semuanya akan bisa teratasi. Yang penting jangan menyerah dan tetap lakukan amalan-amalannya dan tunggu hasilnya. Di di usia yang ke 38 tahun akhirnya saya mendapatkan istri yang cantik . Saya tidak ragu untuk merekomendasikan produk Bapak Hendro Susilo yang terkenal dengan Buluh Perindunya.
Sanudin _ sanu***@yahoo.com
Jl Parakan Paat 3 no 142 Rt 01 Rw 07 Kel Cis Endah

Jadi gak takut nih mo nyicil barang-barang, semuanya bisa terlunasi kok sekarang. Penghasilan udah nambah, memang gak banyak banget tapi alhamdulillah . Terima kasih Pak Hendro udah bantuin. dan saya semakin rajin berinfak atas saran pak Hendro Susilo
imronmuslimin***@gmail.com
Ds. Tegalrejo RT 03 / RW 02 Kec. Merakurak, Tuban

Mau kasih testimoni apa ya? Susah juga kalo gak nyobain sendiri. Pokoke Buluh Perindu. Top markotop deh Mas Hendro nya..
MrMmultisejaht***@rocketmail.com
Kp. Cibogo RT 01 RW 01 Ds. Sukajadi.

Pembayaran dapat di lakukan ke salah satu rekening di bawah ini:
"Disclaimer : Hasil dan manfaat dari media bulu perindu ini akan berbeda-beda terhadap individualnya"
No. Rekening : 3831172434
Nama Pemilik : Hendro Susilo
No. Rekening : 105-00-1057268-7
Nama Pemilik : Hendro Susilo

setelah transfer harap konfirmasi ke SMS/WA 082164632944 PIN BBM : 23B01F92 ( Hendro Susilo ) sertakan juga no hp dan alamat lengkap saudara untuk memudah kan pengirimam bulu perindu. bulu perindu dan tata cara penggunaanya akan di kirim melalui JASA JNE,TIKI DAN POS


SEBAGIAN KECIL TESTIMONI DARI BBM DAN MASIH BANYAK LAGI
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivYDLsOCV9bCmJ3dNjEz0ttEEeRCo81vU0mPK0HbpN-qEmYKxPMlrsvCzC8Hq3u2sEFY2ZxDeukwuQdsUH7kK_HdvmB2c9d7u1G-vW3XKAxKIfTNt9RsBz-94TxXEDihswT9fWa7iJwyk/s1600/6DSAu0a.png
Bukti pengiriman JNE dan Pos Indonesia
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVrvzcuDYb5jVMJ1IhJmFOyBBjhuXk8NtKqaPUkCEhvg1skXrZH4DznJ76o4Mb18EGiv50Mkr0wNBRpLwJ2obKTJeSuGJMaOVSNpdcdiyrCsnPpCQM4xCC7Jq15UAp5MTpvuAOIsd028ox/s1600/ilmu+pelet+bulu+perindu+ampuh.JPG
Tampilkan postingan dengan label KISAH CERITA MISTIK DAN GHAIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH CERITA MISTIK DAN GHAIB. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

KISAH MISTIK ''Daya Pengasih Keris Blarak Cineret''

Aku tidak pernah
menyangka kalau
peristiwa aneh ini akan
terjadi menimpa diriku.
Semuanya berawal dari
keris usang berluk tujuh
dengan motif daun
kelapa (Blarak), yang
ternyata mempunyai
kekuatan yang luar
biasa. Keris yang tanpa
sengaja kutemukan di
laut kidul, tepatnya di
pantai Pandan Simo, ini
ternyata bukanlah
sembarang keris.
Mulanya, aku sedang
menjalankan sebuah
ritual hizbullatif selama
tujuh hari hanya dengan
hanya memakan nasi
dan air putih. Pada hari
terakhir aku menjalani
ritual tersebut, ketika
aku keluar rumah, tanpa
sengaja kulihat selarik
sinar yang amat terang.
Sinar biru itu menyala
berpendar-pendar di
bawah pokok pohon
kelapa. Sinar itu
berkilauan dari tanah,
dan berpendar ke akar
serabut. Nyalanya yang
terang sungguh amat
menakjubkan. Sinarnya
berbaur jadi satu antara
putih dan kebiruan.
Walau merasa aneh,
namun akhirnya aku
pikir itu kejadian yang
wajar dan alamiah saja.
Toh, akar pohon kelapa
memang menyimpan
fospor, yang tidak
menutup kemungkinan
ketika terkena cahaya
rembulan fospor
tersebut dapat
menyimpan cahaya
yang di terima dari sang
rembulan untuk
kemudian di pantulkan,
sehingga akar-akar
pohon kelapa tersebut
bersinar putih kebiruan
secara menakjubkan.
Akan tetapi sinar
kebiruan yang terdapat
di sekeliling akar pohon
kelapa itu ternyata
terus berpendar-pendar,
bahkan terlihat saling
berkejaran, seperti
sedang menyelubugi
mahluk hidup, atau
mungkin juga sesuatu
benda. Benarkah apa
yang kulihat ini?
Saking tidak percayanya
akan peristiwa
tersebut, kuputuskan
untuk meamnggil Mas
Andi, kakakku, untuk
ikut menyaksikan
cahaya aneh tersebut.
Tapi sayangnya, ketika
Mas Andi baru
melihatnya tiba-tiba
terdengarnya sebuah
ledakan keras.
Bersamaan dengan itu
cahaya kebiruan yang
tadinya berpendar-
pendar di bawah pohon
kelapa tadi naik ke atas
batang. Sekejap
kemudian sinar itu
melesat dengan
kecepatan yang luar
biasa, mengarah ke
selatan.
Menyaksikan keanehan
ini, aku dan Mas Andi
hanya terbengong-
bengong dibuatnya.
Memang baru kali itulah
kami menyaksikan
peristiwa semacam itu.
“ Kira-kira tadi itu apa
ya?” Tanya mas Andi
yang memang awam
dalam hal ilmu gaib
“Menurut perkiraanku
itu pusaka, Mas!”
Jawabku sekenanya
Padahal aku hanya
menduga-duga saja.
Pasalnya, aku memang
sering mendengar
bahwa pusaka-pusaka
sakti sering
beterbangan ke sana-
kemari kalau malam
hari, mencari tempat
yang cocok dengan
pancaran aura masing-
masing. Mereka ada
yang menyala kebiru-
biruan, keputihan,
kekuningan, kehijauan
atau kemerahan,
tergantung karaktar
pusakanya.
Waktu pun terus berlalu.
Aku tak lagi mengingat
peristiwa tersebut.
Setahun kemudian
sejak kejadian tersebut,
aku dan beberapa
temanku berencana
memancing di pantai
laut selatan. Kami
memilih pantai yang
masih perawan.
Artinya, pantai tersebut
belum banyak dikunjungi
orang. Ya, pantai
tersebut bernama
Pandan Simo.
Memancing di pantai
memang tidak
segampang memancing
di sungai atau kolam.
Kadang harus
membutuhkan kejelian
dan ketekunan yang
lebih dari hanya sekedar
memancing. Ombak
kerap menggulung
benang hingga benang
jadi semrawut saling
mengkait karuan. Belum
lagi kami harus
menghadapi udara yang
dingin menggigit
persendian
Hampir dari jam
sembilan pagi sampai
jam empat sore aku
merasakan kejenuhan.
Pasalnya, tidak satu
ekor ikanpun yang mau
memakain umpan
kailku. Berjam-jam aku
hanya menikmati
deburan ombak yang
bergemuruh.
Memang, pantai selatan
keangkerannya bukan
hanya legenda. Di
samping ombaknya
ganas, juga
memancarkan energi
mistik yang sangat
besar. Begitulah
setidaknya kemudian
terjadi menimpa diriku.
Ketika aku masih setia
memancing sembari
menikmati angin sore
dan deburan ombak,
tanpa aku sadari ada
seorang pemuda yang
menghampiriku. Entah
dari mana datangnya.
Sepertinya pemuda ini
dengan begitu saja
sudah berdiri di
sampingku.
“Assalamualaikum!”
Sapanya.
Karena terkejut, aku
tidak segera
menjawabnya. Sejenak
kuperhatikan tampanya.
Dandanan pemuda itu
bukan seperti orang
kebanyakan penduduk
Pandan Simo. Dia
berkemeja hijau dengan
celana pangsi selutut
berwarna hitam. Dan
separuh celana tersebut
di balut dengan sarung
dengan motif kotak
paduan biru dan putih.
Sekilas mirip dandanan
orang Sumatra.
“Waialakum salam!”
Jawabku kemudian
sambil terus
memperhatikannya.
Pemuda itu sangat
kurus dengan kulit
kuning bersih.
Sementara matanya
yang bersih
memancarkan
kejernihan hatinya.
Rambutnya ikal panjang
tergerai, berkibar-kibar
di terpa angin.
“Mohon maaf, Anda ini
siapa? Apakah kita
pernah bertemu
sebelumnya ?” Tanyaku
bertubi-tubi.
Yang ditanya
tersenyum penuh
makna. “Ini pusaka
yang dulu kau temui di
bawah pohon kelapa
yang tumbuh di sebelah
timur dari rumah yang
kau diami. Tapi waktu
itu belum berjodoh. Dan
sekarang sudah
waktunya kau
menerima pusaka ini.”
Kata pemuda misterius
itu kemudian.
Aku masih kebingungan
karena orang tersebut
sama sekali tidak
pernah aku kenal
sebelumnya. Aku juga
ragu untuk menerima
pemberiannya.
“Terimalah! Ini sudah
jadi hakmu!”
Tandasnya.
Meski ragu, kuraih
benda itu dari
tangannya. Ternyata
sebuah keris. Melihat
dari bentuknya, keris
tersebut terkesan biasa
saja. Bahkan belum
dapat dikatakan keris
karena tidak
mempunyai gagang dan
sarung. Warnanya Putih
kehitaman, seperti
tidak terawat. Berluk
lima dengan ornamen
seperti pohon kelapa
(Blarak). Bahannya
terbuat dari baja putih.
Setelah kuterima,
pusaka usang tersebut
langsung kumasukkan
ke dalam tas kecil yang
kubawa. Si pemuda
membeberkan petunjuk
singkat cara merawat
keris pemberiannya.
Setelah memberikan
keris usang yang
bernama Blarak Cineret
itu, si pemuda
misterius tadi segera
berbalik dan pergi
meninggalkanku dengan
tanpa berkata walau
sepatah katapun.
Tubuhnya menghilang
ketika sudah beberapa
meter jauhnya dari
tempatku memancing.
Aku sendiri masih heran
dan bertanya-tanya
siapakah sebenarnya
pemuda tersebut …?
***
Sebuah kelapahijau
sengaja kusediakan di
kamarku. Ujung keris
kemudian kucelupkan ke
dalam airnya. Ya,
memang begitulah
petunjuk pemuda
misterius tersebut
untuk menjaga
karismanya. Setiap
harinya aku bungkus
keris tersebut dengan
kain merah.
Meski terkesan barang
rongsokan, namun
entah kenapa aku suka
sekali memperhatikan
pusaka tersebut.
Bahkan kadang sampai
berjam-jam lamanya.
Sepertinya, ada daya
tarik tersendiri yang
keluar dari bilah besinya.
Dan anehnya lagi,
semenjak aku
memegang keris
tersebut energiku
menjadi bergairah. Aku
menemukan semangat
yang luar biasa di dalam
menjalani hidup.
Namun celakanya,
semenjak keris
tersebut ada di
tanganku, banyak
wanita yang tiba-tiba
kesengsem padaku.
Mereka rata-rata aktif
dan agresif
mendekatiku, meski
mereka tergolong ada
yang usianya lebih muda
dariku. Cara perhatian
mereka terhadapku
berbeda-beda. Ada yang
setiap hari menelponku
dengan kata-kata
manja dan mesra, ada
yang setiap hari
menyambangiku di
kantor, ada juga yang
menunjukan
perhatiannya dengan
selalu mengirimi
makanan dan berbagai
hadiah. Aku sendiri tak
habis pikir!
Sering gadis-gadis
cantik itu memenuhi
meja kantorku hanya
ingin melihatku saja.
Sungguh sangat aneh!
Bahkan mereka tidak
perduli ketika aku
menganggap mereka
semua sebagai pacarku.
Karena kesempatan ini,
hampir setiap hari aku
pergi dengan wanita
yang berbeda. Baik itu
jalan-jalan, atau hanya
sekedar bermalam di
hotel.
Apakah karisma yang
timbul di dalam tubuhku
memang berasal dari
keris usang yang selalu
kusandingkan dengan
kelapa hijau tersebut?
Entahlah! Yang jelas,
sejak saat itu aku tidak
bisa mengendalikan
karakterku. Aku selalu
bergairah dengan gadis-
gadis cantik yang
memburuku. Hingga
tanpa terasa aku telah
melakukan banyak
dosa. Seperti tidak
paus-pausnya aku
bermain perempuan.
Celakanya gadis-gadis
cantik yang jadi
korbanku adalah gadis-
gadis yang
sesungguhnya baik.
Hampir empat tahun
berlalu aku memegang
benda usang yang sakti
tersebut. Dan selama
itu pula banyak gadis
baik-baik yang aku
sakiti dan kecewakan.
Untunglah akhirnya
kesadaran itu datang
juga. Aku tak ingin terus
larut dalam dosa. Kini
aku tidak berani lagi
mempermainkan gadis-
gadis yang
mendekatiku. Mereka
semua malah kuanggap
sebagai teman baik.
Akhirnya, keris Blarak
Cineret itu kupinjamkan
ke seorang teman.
Katanya untuk
menaikan aura usaha
rumahmakannya.
Anehnya, ketika keris
usang tersebut aku
pinjamkan, malamnya
aku bermimpi didatang
seorang pemuda yang
tampan dan gagah
dengan pakaian mirip
panglima perang. Dia
mengaku bernama
Panglima Ribosari, yang
konon adalah seorang
panglima kepercayaan
kanjeng laut kidul yang
di utus untuk turut
menjaga area pantai
selatan. Dia sangat
marah karena aku telah
meminjamkan
wadagnya pada orang
yang bukan jodohnya.
Paginya, setelah
mengalami mimpi
tersebut, telpon
genggamku berbunyi.
Suara di seberang sana
mengabarkan bahwa
keris Blarak Cineret
yang di pinjamnya
dariku tiba-tiba raib
entah kemana.
Mulanya aku bersedih
dengan hilangnya keris
usang tersebut. Tapi
kemudian aku
mengikhlaskanya.
Mungkin saja keris
tersebut telah kembali
ke tempatnya, di pantai
selatan. Dengan
hilangnya keris tersebut
jiwaku terasa lebih
tenang, karena tidak
akan dipengaruhi aura
penarik lawan jenis lagi.
Kini aku telah beristri.
Aku menjalani hidup
berumahtangga dengan
harmonis dan bahagia.
Sampai pada suatu saat
aku terkejut ketika
isteriku menemukan
kain warna merah yang
membungkus sebuah
benda. Kain merah
tersebut diserahkannya
padaku. Aku berdebar-
debar menerimanya,
karena aku tahu persis
kain merah yang
membungkus sebuah
benda tersebut sudah
sangat aku kenal. Yang
aku sangat heran kain
merah tersebut tiba-
tiba ditemukan istriku.
Katanya ada di atas
lemari. Itu tidak
mungkin karena kain
merah yang
membungkus sebuah
benda tersebut telah
hilang dua tahun yang
lalu, ketika di pinjam
temanku yang
membuka usaha rumah
makan. Bagaimana
mungkin kain merah
berisi Keris Blarak
Cineret itu bisa kembali?
Dengan hati yang
berdebar-debar aku
mengamati kain merah
yang membungkus
sebuah benda tersebut.
Aku timang-timang dan
berpikir beberapa kali
untuk membukanya.
Aku menyadari bahwa
kini aku telah
mempunyai istri.
Akankah dengan
kembalinya kain merah
yang membungkus
sebuah benda tersebut
aku kembali akan
bertualang dengan dunia
para gadis yang
nantinya membawa
kesesatan bagiku?
Dengan dada yang
masih berdegup
kencang akhirnya aku
beranikan diri untuk
membuka kain merah
yang membungkus
sebuah benda tersebut.
Dan dadaku semakin
berdegup kencang
manakala benda yang
terbungkus kain merah
tersebut ternyata
benar adalah Keris
Blarak Cineret!
Petualangan apalagi
yang menghadangku di
hari esok? Entahlah,
yang jelas semoga
Tuhan melindungi dan
menguatkan imanku.

Sabtu, 04 September 2010

SUSUK PENGASIH NYAI SINGA BAWUK

Media susuk ini
adalah bulu
kemaluan seekor
harimau. Siapa yang
memasangnya, jika
dia perempuan, akan
menjadi banal dan
hot. Berikut sebuah
kisah nyata
pemasang susuk
kramat super langka
ini ….
Dulu, dia dikenal sebagai
perempuan cantik
penebar pesona. Namun
kini dia hanya bisa
berbaring lemas hampir
tanpa daya. Teriakan
kesaktian setiap malam
memecah dari mulutnya
yang kering dan kisut.
Entah apa yang
dirasakannya. Mungkin
kesakitan, atau
mungkin juga
ketakutan.
Kenyataan tragis itu
harus dialaminya hanya
karena sewaktu muda
dia tergofa memburu
nafsu dan ego
keduniawian. Dia rela
diperbudak kekuatan
gaib yang berasal dari
aura harimau betina
yang sedang birahi,
yang sukmanya
dimasuki setan betina
yang harus seks.
Dia terlahir dari
pasangan orang tua
yang secara kebetulan
memiliki kelebihan
dalam bidang
suprantural. Trista
namanya. Sejak masih
kecil kehidupannya
sangat kental dengan
aroma mistis, meski
ayahnya yang
mendalami ilmu mistik
kejawen itu tidak
pernah menurunkan
ilmu-ilmu miliknya
kepada putrinya ini.
Diusia 16 tahun, Tirsta
dijodohkan dengan lelaki
murid terkasih
bapaknya. Sebut saja
bernama Pristono. Lelaki
yang sudah berusia 30
tahun ini sangat
ngemong, sehingga
rumah tangga mereka
selama 4 tahun berjalan
sangat rukun.
Sayangnya, mereka tak
dikaruniai keturunan.
Sampai di usia 34 tahun,
usia yang sangat muda,
Pristono meninggal
karena suatu penyakit
yang disebut orang
desa dengan istilah
“ angin duduk”.
Di usia 20 tahun, jadilah
Trista hudup menjanda.
Statusnya ini sering
menimbulkan kondisi
yang tidak enak. Daia
kerap kali jadi bahan
gunjingan di
kampungnya. Karena
janda muda dan cantik,
dia juga sering jadi
bahan cemburu buta
para ibu di desanya.
Merasa tak tahan
dengan keadaan
tersebut, akhirnya
Trista melangkahkan
kakinya untuk
merantau ke Sumatera.
Dia ikut menumpang di
rumah kakaknya.
Di Sumatera Trista
bekerja sebagai
pembantu rumah
tangga di sebuah
keluarga kaya. Tanpa
bisa dikendalikan, janda
muda ini jatuh cinta
pada anak majikannya.
Sudah dapat dipastikan,
pemuda tampan itu tak
mungkin sudi
menanggapi cinta janda
kembang dari desa
terpencil di pelosok
Jawa ini. Trista sama
sekali tidak sepadan
dengan dirinya.
Cinta bertepuk sebelah
tangan akhirnya
membawa Trista
berkenalan dengan
dunia mistis. Dia
menemui Mbah Darto,
orang sakti yang juga
berasal dari Jawa dan
kebetulan adalah
saudara seperguruan
Bapaknya Trista.
Terenyuh oleh nasib
yang menimpa Trista,
Mbah Darto
menyarankan agar
janda muda ini
memasang susuk bulu
kemaluan harimau
betina yang sedang
birahi, atau dalam istilah
wong Jawa disebut
Susuk Pengasih Nyai
Singo Bawuk. Susuk ini
tingkat kesulitannya
luar biasa, karena
mencarinya harus
menunggu saat musim
kawin harimau. Saat si
raja rimba sedang
melangsugkan hasrat
birahinya, maka harus
dibunuh. Yang betina
untuk si pemasang
wanita, demikian pula
yang jantan untuk
pemasang laki-laki.
Menurut pengakuan Nek
Trista, untuk
pemasangan susuk
harimau birahi ini harus
diambilkan bulu yang
tumbuh (maaf) di
kemaluan harimau
tersebut, meski hanya
satu helai saja. Cara
pemasangannya dengan
ritual yang rumit.
Seteklah bulu kemaluan
harimau disiapkan,
maka kewanitaan
Trista dibasuh dengan
darah harimau. Lalu,
dengan cara gaib, bulu
kemaluan harimau itu
dipasangkan di bagian
terlarang tersebut.
Hasilnya memang luar
biasa. Setelah
memasang susuk
keramat ini, anak
majikan Trista yang
tampan itu langsung
bertekuk lutut di bawah
kakinya.
Singkat cerita, mereka
pun menikah. Trista
merasa dapat
menggapai
keinginannya, meski
sesungguhnya
pernikahan itu terjadi
tanpa didasari kasih
sejati sebagaimana
wajarnya.
Dalam rentang
perjalanan waktu,
karena pengaruh Susuk
Pengasih Nyai Singa
Bawuk, akhirnya Trista
tak dapat
mengendalikan nafsu
birahinya. Dia telah
dikuasai kekuatan gaib
yang bersemayam
dalam susuk tersebut.
Sejak itu, mulailah badai
menerjang bahtera
rumah tangganya.
Setelah harta dan
kejantanan suaminya
habis, Trista
meninggalkannya. Dia
lari mengejar impiannya
untuk memuaskan
nafus birahinya,
sekaligus
mengumpulkan harta
duniawi.
Trista memilih kembali
ke tanah Jawa. Tapi dia
berlabuh di Jakarta. Di
kota ini dia semakin
menjadi-jadi. Dia terjun
ke dunia hitam
pelacuran. Hebatnya,
setiap laki-laki hidung
belang yang
berhubungan intim
dengan dirinya pasti
akan ketagihan,
sehingga banyak
diantara mereka yang
ludes uang atau harta
bendanya.
Sebenarnya, Trista
bukanlah gadis yang
matre. Ini semua
karena pengaruh susuk
harimau betina
tersebut, sehingga dia
menjadi liar. Dan
keliarannya
membutuhkan biaya
yang tinggi demi
memenuhi selera live
stylenya yang telah
berubah. Dia bukan lagi
gadis kampong yang
lugu dan apa adanya.
Untuk semua ini, sudah
tentu dia membutuhkan
uang banyak.
Begitulah! Petualangan
Trista baru berhenti
ketika dia jatuh ke
dalam pelukan seorang
duda hiperseks. Jadi klop
sudah mereka.
Kebetulan juga lelaki
bernama Harmoko ini
punya kehidupan yang
lumayan. Mereka
menikah, dan Trista
terentaskan dari
lembah hitam.
Sayang, pernikahan
ketiganya inipun juga
tak dikaruniai anak. Di
usia 50 tahun, usaha
Harmoko bangkrut
karena ditipu beberapa
rekan bisnisnya.
Akhirnya mereka jatuh
miskin.
Biaya hidup di Jakarta
sangat mahal.
Karenanya mereka
memutuskan pulang ke
kampung halaman
Trista di Jawa. Di
tempat tinggalnya yang
baru, Trista mulai tekun
memperdalam ilmu
klenik, dan akhirnya
membawa dirinya
bertemu dengan roh
gaib yang bernama Nyai
Pilut. Dari bisikan Nyai
Pilut inilah, Trista tahu
sesuatu masalah yang
ditanyakan orang lain.
Ya, Trista menjadi
dukun prewangan.
Tak lama kemudian,
Trista cukup kondang di
daerahnya. Banyak
orang datang
kepadanya. Merasa
dendam dengan nasib
buruk yang menimpa
Hormoko, suaminya,
yang ditipu rekan
bisnisnya, maka
mendorong Trista
sering menipu orang
yang datang padanya,
dengan pembayaran
yang cukup mahal. Ada-
ada saja alasan yang
digunakan untuk
mengeruk uang
pasiennya.
Karena kelewat
komersil, nama Trista
akhirnya redup bak
ditelan malam. Menurut
orang-orang dekatnya,
Trista telah ditinggal
pergi oleh Nyi Pilut, yang
tidak suka Trista telah
berubah perangai
menipu orang-orang
yang meminta
pertolongan padanya.
Akhirnya Trista jatuh
miskin lagi. Dan yang
lebih mengenaskan,
Harmoko terkena
stroke. Lima tahun sakit
akhirnya dia meninggal
dunia. Trista sering
merenung, sekarang dia
sendiri, tak punya siapa-
siapa untuk berbagi
cerita. Padahal dia
benar-benar mencintai
suaminya itu.
Usia Trista sekarang
telah 75 tahun. Sejak
Harmoko meninggal, dia
memang sudah tak
mau lagi bersentuhan
dengan laki-laki, meski
itu sangat berat.
Ketuaan telah
menggerogoti raganya.
Dia jatuh terkulai tak
berdaya.
Dalam
ketidakberdayaan ini
setiap malam, nenek
Trista kerap berteriak-
teriak kesakitan dan
kadang-kadang
menggeram bak seekor
harimau. Oleh adik-
adiknya, diusahakan cari
syarat piranti gaib. Dari
hasil deteksi ahli batin
seorang paranormal
wanita yang disapa
akrab Jeng Rahayu
dikatakan; “Ada 9
susuk ditubuh Mbah
Trista, yang delapan
saya sanggup
mencabut, tapi yang
satu, yang dipasang di
kemaluannya, rasanya
perlu waktu untuk
mempelajarinya. ”
Menurut Ahimsa, salah
seorang adik Mbah
Trista, ke-8 susuk
pengasih berhasil
dicabut oleh Jeng
Rahayu. Untuk susuk
yang satunya sedang
mohon petunjuk ke
Tuhan. Dua minggu
kemudian, Jeng Rahayu
bilang, kalau susuk itu
bisa dikurangi daya
gaibnya dengan Jadem
Arab.
Jadem adalah tanaman
semacam agave atau
disebut lidah buaya, tapi
yang tumbuh di gurun
Arab. Entah dari mana
dapatnya, sejak diberi
Jadem Arab itu,
teriakan Mbah Trista
tak begitu memilukan.
Tapi tetap saja
menjerit-jerit hampir
tiap malam, meski
frekuensinya berkurang.
Jeng Rahayu juga bilang
pada Ahimsa, Susuk
Pengasih Nyai Singa
Bawuk hanya dapat
dihilangkan dengan
darah kucing kembang
talon (belang tiga)
jantan dan tapelan
kulitnya.
Betapa sulitnya mencari
kucing kembang talon
jantan, sebab kucing
jantan jenis ini pasti
dibunuh induknya
sendiri, atau kucing
dewasa lainnya bila
diketahui hidup. Konon,
bila sampai tumbuh
dewasa ia akan menjadi
rajanya kucing.
Tapi, puji syukur,
Ahimsa, bisa
mendapatkan kucing
dimaksud meski masih
anakan. Kucing mungil
yang masih sangat
muda itu dipotong,
darahnya digunakan
untuk membasuh
kemaluan Trista, lalu
kulitnya yang sudah
diseset ditempelkan di
tempat terlarang itu.
Ritual tersebut
dilakukan sore hari.
Menjelang tengah
malam, tiba-tiba Mbah
Trista menjerit sangat
keras dan mengaum
panjang seperti
harimau. Kata Ahimsa,
dari pusarnya keluar
cahaya kemerahan,
meluncur menembus
genteng. Tak lama
kemudian, Mbah Trista
tertidur pulas.
Satu minggu sejak
peristiwa itu, Trista
tiap malam tak teriak-
teriak lagi dan tak
menggeram. Nenek
renta itu akhirnya
wafat dalam damai
setelah susuk Nyi Singo
Bawuk terlepas dari
raganya.
Bila melihat betapa
cermin hidup yang
ditayangkan Misteri ini
begitu memilukan,
masihkan kita akan
memburu piranti gaib
yang hanya memberi
kenikmatan semu
sesaat? Setelah itu
terkena laknat?
Penulis mengungkap
semua ini bukan untuk
membuka wacana
ajakan untuk mengikuti
jalan sesat tersebut.
Tapi bijaklah dalam
menentukan pilihan
hidup.
Kisah nyata ini, dengan
segala rasa hormat,
penulis tidak bersedia
mengungkap jati diri
para pelaku peristiwa,
baik Trista sekeluarga
maupun Jeng Rahayu.
Karena ada hubungan
persahabatan yang erat
diantara kami. Nama-
nama pelaku
disamarkan.

Minggu, 29 Agustus 2010

BALAS DENDAM KUNTILANAK

Jakarta tempo dulu
adalah sebuah
perkampungan yang
masih asri, penuh
dengan pohon-pohon
yang besar dan
rindang. Sebuah
kisah mistis terjadi di
kawasan Senayan,
Jakarta Selatan.
Kisah tentang
seorang ibu yang
mati dalam keadaan
hamil tua dan
arwahnya menjelma
menjadi sosok
Kuntilanak ….
Sosok kuntilanak
sekarang ini menjadi
primadona dalam
sinetron maupun film
layar lebar. Dalam
tayangan
sinematografi,
umumnya digambarkan
sang kuntilanak
umumnya digambarkan
sebagai sosok arwah
penasaran yang
membalas dendam
pada orang-orang yang
pernah mencelakainya
sewaktu dia masih
hidup sebagai manusia.
Entah kebetulan atau
tidak, peristiwa yang
saya ceritakan ini persis
seperti kisah dalam
film, yakni tentang
sosok kuntilanak atau
pocong yang ingin balas
dendam kepada mereka
yang telah mencelakai
dirinya.
Kejadiannya memang
sudah cukup lama, yakni
pada tahun 50-an, dan
berlangsung di daerah
Senayan, Jakarta
Selatan. Waktu itu saya
(Penulis) masih duduk di
bangku Sekolah Rakyat
(SR) atau yang
sekarang disebut SD.
Perlu diketahui, pada
tahun 50-an, Senayan
tentu saja belum
menjadi sebuah
kawasan metropolitan
seperti sekarang ini.
Waktu itu Senayan
adalah sebuah
perkampungan
masyarakat Betawi
yang masih banyak
ditumbuhi pohon besar.
Orang Betawi tempo
dulu memang sudah
lazim menanam pohon
nangka, cempedak,
rambutan, durian,
mangga dan kelapa di
kebun atau halaman
rumah mereka. Jadi
saat itu kondisi Senayan
mirip hutan atau daerah
pegunungan.
Waktu, orang tua saya
dan beberapa kepala
keluarga lainnya yang
berasal dari desa di
Jawa Barat, merantau
ke Senayan. Kami
sebenarnya satu sama
lain masih merupakan
sanak saudara. Rumah
orang tua saya, terletak
di pinggir jalan, sebab
kakek saya membuka
usaha toko furniture.
Bersebelahan toko
kakek, adalah toko
sembako milik seorang
keturunan Cina totok
yang akrab disapa
Babah Jangkung.
Babah Jangkung dan
keluarganya termasuk
China yang kaya raya
kala itu. Karena tak ada
saingan, toko
sembakonya sangat
laris. Pembelinya bukan
cuma penduduk sekitar,
tapi ada juga yang
datang dari jauh.
Agaknya, Babah
Jangkung memang
menjual dagangannya
dengan harga yang
sedikit miring, karena
itu pelanggan
berbondong-bondong
datang ke tokonya yang
besar itu.
Sementara itu, di
belakang rumah kakek
saya, berjajar rumah-
rumah sederhana milik
orang yang sedesa
dengan kami.
Sedangkan rumah orang
Betawi asli terletak
agak jauh. Waktu itu,
hampir semua pribumi
Betawi masing-masing
memiliki tanah yang
cukup luas. Ukuran
rumahnya pun besar-
besar dengan banguan
khas Betawi.
Suatu hari, tetangga di
belakang rumah,
persisnya seorang ibu
muda baya yang
bernama Ceu Tiyah
terserang malaria.
Tubuhnya menggigil,
walaupun sudah
diselimuti berlapis-lapis
kain. Sementara itu pula
suhu badannya kian
meninggi karena
demam yang hebat.
Malang sekali nasib Ceu
Tiyah. Waktu itu dia
tengah mengandung
beberapa bulan. Karena
waktu itu belum ada
obat-obatan seperti
sekarang, dan juga
karena takdir Allah, Ceu
Tiyah tak pernah
sembuh lagi dari
serangan malaria itu. Dia
meninggal bersama bayi
dalam kandungannya.
Malam harinya, setelah
siangnya Ceu Tiyah
dikuburkan, nenek saya
kebetulan buang air kecil
di kamar mandi. Letak
kamar mandi dan wc
kami terpisah dengan
bangunan rumah.
Kebetulan kamar mandi
itu bersebelahan dengan
rumah keluarga Ceu
Tiyah. Selesai buang
hajat kecil, nenek saya
terkejut bukan
kepalang. Apa lacur,
nenek melihat sosok
Ceu Tiyah sedang berdiri
sambil menyaksikan
orang main kartu di
ruang tamu rumahnya.
Kebiasaan orang Betawi
waktu itu kalau ada
yang sedang berduka
atau lahiran maupun
pesta, malamnya
memang selalu diisi
dengan main kartu.
Apalagi, suami Ceu
Tiyah memang dikenal
sebagai seorang penjudi
berat.
Di luar rumah
almarhumah Ceu Tiyah
memang tidak ada
penerangan, tapi sinar
lampu patromak dari
ruang tamu lumayan
terang. Ingat, waktu itu
Jakarta belum ada
listrik.
Karena yakin yang
dilihatnya adalah Ceu
Tiyah yang baru siang
hari tadi dikuburkan,
dengan melangkah
perlahan-lahan dan
sambil membawa
segayung air, nenek
saya yang pemberani
menghampiri Ceu Tiyah.
Kemudian air itu
disiramkannya oleh
nenek sambil berkata,
“Pergi kamu!”
Ceu Tiyah berlalu. Tapi
bukan dengan
melangkah, melainkan
melayang seperti
terbang sambil
mengeluarkan suara
mirip anak ayam.
Beberapa hari kemudian
setelah kejadian malam
itu Uding, suami Ceu
Tiyah terserang demam
tinggi. Yang terasa
aneh, bola mata Uding
selalu melotot seperti
orang ketakutan, dan
mulutnya selalu
berteriak-teriak
menyebut nama
almarhumah isterinya,
“ Ampun Tiyah! Ampun
Tiyah!”
Hanya sehari sakit, jiwa
Uding tidak tertolong
lagi. Dia meninggal
dalam keadaan kedua
bola matanya
membelalak, seperti
melihat sesuatu yang
amat menakutinya. Hal
yang sangat aneh dan
misterius, pada leher si
mayat terihat bekas
tangan mencengkeram
sedemikian kuat. Karena
itulah orang-orang
menduga Uding tewas
karena dicekik.
Mungkinkah itu
perbuatan Ceu Tiyah
yang menurut
kesaksian nenek saya
telah berubah wujud
menjadi kuntilanak?
Yang pasti, sejak
kematian Uding, teror
Ceu Tiyah semakin
menjadi-jadi. Setelah
suaminya meninggal
dengan bekas cekikikan
di leher, teman-teman
berjudi Uding pun
mengalami nasib yang
sama. Mereka mula-
mula terserang demam
tinggi. Beberapa hari
kemudian meracau
dengan berteriak-teriak
dan mata membelalak
ketakutan. “Ampun Ceu
Tiyah! Ampun Ceu
Tiyah !” Begitulah yang
keluar dari mulut
mereka.
Teman-teman judi
Uding itu akhirnya
meninggal, dengan
kondisi sama seperti
suami Ceu Tiyah. Ada
bekas cekikan di
lehernya.
Ceu Tiyah pun tak urung
melakukan balas
dendam pada Babah
Jangkung, si pemilik
toko sembako. Babah
Jangkung rupanya
pernah memaki-maki
Ceu Tiyah semasa
hidupnya, karena utang
belanja sembako di
tokonya tidak terbayar.
Balas dendam juga
dilakukkan pada
tetangga yang pernah
bertengkar dengan
almarhumah. Bahkan,
musuh anak Ceu Tiyah
(ada dua anak remaja
Ceu Tiyah) meninggal
juga secara mendadak.
Atas kejadian demi
kejadian misterius ini,
oang sekampung
tambah yakin bahwa
semua teror maut itu
adalah perbuatan balas
dendam dari Ceu Tiyah
yang disebut-sebut
telah menjelma menjadi
Kuntilanak.
Memang, sudah menjadi
rahasia umum bahwa
Ceu Tiyah dengan
suaminya hidup tidak
harmonis. Kedua suami
isteri itu sering telibat
pertengkaran. Salah
satu penyebabnya
adalah karena suami
Ceu Tiyah seorang
pejudi berat. Uang yang
didapat sebagai buruh
bangunan selalu
digunakan untuk judi,
sehingga utang ke
Babah Jangkung tidak
pernah lunas.
Awal tahun 60-an,
penduduk Senayan
terkena penggusuran,
karena di areal itu akan
dibangun komplek
Gelora Bung Karno dalam
rangka Asian Games.
Mula-mula yang digusur
adalah tempat
pemakaman umum
yang lokasinya hanya
beberapa puluh meter
dari tempat tinggal
kami.
Masing-masing kuburan
digali lalu tulang-
belulangnya dipindahkan
ke pemakaman Blok P
Kebayoran Baru.
Sekarang pemakaman
Blok P pun sudah tidak
ada lagi, karena di lokasi
itu sudah dibangun
gedung kantor Walikota
Jakarta Selatan.
Penduduk Senayan yang
kena gusur pindah
berpencaran. Ada yang
pindah ke sekitar
Kebayoran Baru, ada
yang ke Simprug, dan
ada yang ke Tebet.
Kakek saya sekeluarga
memilih pindah ke
Tebet.
Sejak penggusuran itu,
teror maut Ceu Tiyah
tidak pernah terjadi lagi.
Anak-anaknya yang
menjadi yatim piatu
pulang kampung.
Hampir setengah abad
berlalu kejadian
misterius itu, namun
rasanya baru saja
kemarin terjadi. Bila
ingat lagi saya bergidik
ngeri.

GUNA-GUNA PERUSAK CINTA DAN MALAM PERTAMA

Namanya, Guna-guna
Gagap Mulut dan
Guna-guna Layu
Penis. Keduanya
efektif untuk
merusak keindahan
cinta dan malam
pertama. Dengan
Guna-guna Gagap
Mulut, mempelai pria
tidak akan bisa
mengucapkan ikrar
pernikahan. Dan,
kejantanannya akan
loyo karena Guna-
guna Layu Penis....
Eksistensi ilmu-ilmu gaib
sebaiknya jangan
dianggap omong kosong
belaka. Seperti yang
tumbuh di kalangan
masyarakat Melayu
Langkat. Mereka,
terutama yang tinggal
di lingkungan pedesaa,
pasti mengenal apa
yang disebut Guna-guna
Gagap Mulut dan Layu
Penis. Biasanya, kedua
ilmu gaib ini
dipergunakan oleh
mereka yang tidak
bertanggungjawab,
atau karena sakit
hatinya, untuk
“ meracuni” pasangan
suami isteri pengantin
baru. Guna-guna Gagap
Mulut dilancarkan pada
hari pernikahan,
sedangkan Guna-guna
Penis Layu dikirim
menjelang malam
pertama atau bulan
madu.
Menurut cerita-cerita
yang tumbuh di
kalangan masyarakat
Melayu Langkat, di
zaman dahulu, kedua
jenis guna-guna ini
kerap menimpa setiap
pasangan pengantin
baru. Ada saja orang
yang usil, lalu meminta
dukun untuk
mengirimkan guna-guna
kepada pengantin baru.
Memang, guna-guna ini
tidak berlaku pada
pasangan yang sudah
lama menikah.
Media yang
dipergunakan untuk
mengirimkan Guna-guna
Gagap Mulut adalah
dengan mengurung
seekor kodok dalam
tempurung kelapa. Ada
juga yang menggunakan
media berupa tikar
bekas. Tikar dilipat
kemudian dijahit.
Dengan media kodok
dikurung dalam
tempurung kelapa, atau
tikar bekas yang dilipat
dan dijahit, maka saat
prosesi ijal kabul sang
mempelai pria dijamin
tidak akan bisa
menjawab ijab dari wali.
Lidahnya menjadi kelu
seperti terkunci.
Makanya itu disebut
Guna-guna Gagap Mulut.
Mantera dan prosesi
ritualnya sebenarnya
sangat sederhana. Nah,
untuk alasan takut
disalahgunakan, maka
Penulis sengaja
menyimpannya rapat-
rapat.
Masih menurut cerita, di
zaman dulu, banyak
remaja yang bisa
mengerjakan Guna-guna
Gagap Mulut ini. Tapi
seiring perkembangan
zaman, sekarang ini
ilmu gaib tersebut
sudah langka yang
menguasainya. Mungkin,
hanya dukun-dukun
tertentu saja yang bisa
mengerjakannya. Itupun
jumlahnya tinggal
beberapa orang saja.
Dengan Guna-guna
Gagap Mulut, biasanya
pada saat mempelai
laki-laki hendak
menjawab ijab lidahnya
menjadi gagap.
Meskipun sudah
berulangkali diajari oleh
penghulu atau naib,
tetapi saja saja dia
tidak bisa menjawab
ijab.
“ Pernah terjadi, setelah
lima jam prosesi
pernikahan berlangsung,
tapi mempelai laki-laki
tidak juga bisa
menjawabnya, dukun
kampung diminta
bantuannya guna
mengusir pengaruh dari
Guna-guna Gagap
Mulut, ” kata sumber
Penulis yang enggan
disebut identitasnya.
Oleh sang dukun, si
mempelai pria
dimandikan dengan air
yang diambil dari
sembilan sumur dan
bunga sembilan warna.
Tiap-tiap sumur warga
di kampung diambil
airnya satu timba
kemudian dikumpulkan
dalam satu ember
besar.
Sang dukun kampung
membacakan mantera.
Setelah itu baru air
tersebut dipergunakan
untuk mandi.
Apakah setelah mandi
sang mempelai pria
sembuh dari pengaruh
Guna-guna Gagap
Mulutnya? Ternyata
belum.
Mandi itu hanya
membuka jalan menuju
tempat kuncian. Proses
penyembuhan
berikutnya, sang dukun
kemudian mencari
kodok yang terkurung
dalam tempurung atau
tikar yang sengaja
dijahit lipatannya.
Setelah kodok dilepas
dan jahitan tikar
ditetas, barulah sang
mempelai pria terbebas
dari pengaruh Guna-
guna Gagap Mulut.
Selanjutnya dia dapat
mengucapkan ijab qabul
dan dua kalimah
syahadat dengan lancar.
Menurut cerita Pak
Yunus, kakek berusia 77
tahun, kodok yang
sengaja dikurung dalam
tempurung kelapa atau
tikar dilipat lalu dijahit,
sebenarnya hanya
sebagai mediasi agar
seperti itulah
keberadaan mempelai
pria. Dia seperti berada
dalam tempurung
kelapa, bingung dan
tidak tahu harus
berkata apa, dan
mulutnya juga terkunci
seperti tikar tadi.
“ Yang bekerja
menggerakkan guna-
guna ini sebenarnya Jin
Kafir. Dengan membaca
beberapa bait
manteranya, Jin Kafir itu
dapat dipanggil untuk
dimintai bantuannya,”
terang Pak Yunus, yang
mangaku masih sedikit
ingat bacaan mantera
ilmu gaib ini. “Tapi,
sebaiknya jangan
digunakan. Resikonya
besar, ” tegasnya ketika
Penulis menyalin
mantera dimaksud.
Tentu saja Penulis
menyanggupinya.
Masih menurut
pengakuan Yunus,
dirinya termasuk salah
seorang yang pernah
menjadi korban Guna-
guna Gagap Mulut dan
Layu Penis. Dikisahkan,
saat dirinya menikah di
usia 20 tahun, dan
isterinya, Delima,
berusia 16 tahun,
memang banyak teman
sebayanya yang iri hati.
Calon isterinya yang
cantik jelita itu diam-
diam ditaksir banyak
pemuda di desanya. Ada
yang terus terang
mengutarakan rasa
cintanya, ada pula yang
hanya diam-diam.
Di antara sekian pria
yang menyatakan
cintanya, hanya Yunus
yang dipilih Delima untuk
menjadi pendamping
hidupnya. Pilihan Delima
membuat pria yang
selama ini mencintainya
menjadi patah hati.
Delima memilih Yunus
bukan tanpa
pertimbangan. Pemuda
ini selain berwajah
tampan, juga sangat
rajin bekerja dan sopan
pada orang tua. Orang
tua Delima sendiri
merestui pilihan
anaknya.
Tanpa diketahui oleh
Yunus, ternyata ada
Hasan, salah seorang
pemuda kampung yang
patah hati. Cintanya
yang tulus ditolak
mentah-mentah oleh
Delima. Penolakan itu
menimbulkan luka yang
sangat dalam.
Ketika hari pernikahan
Yunus dan Delima
dilangsungkan, Hasan
rupanya meminta Atok
Uncu untuk mengguna-
gunai Yunus. Permintaan
itu dikabulkan Atok
Uncu. Pada saat
bersamaan, datang
Budin. Pemuda ini
bernasib sama dengan
Hasan. Cintanya yang
tulus hanya tertepuk
sebelah tangan. Delima
menolak mentah-
mentah cinta
pertamanya. Perasaan
sakit hati mendorong
Budin untuk menggunai-
gunai Yunus di hari
perkawinannya.
Pada mulanya, Budin
berencana ingin
mengguna-gunai Yunus
dengan Guna-guna
Gagap Mulut. Karena
Hasan telah memilihnya,
Budin memutuskan
untuk mempergunakan
Guna-guna Layu Penis.
Apa yang kemudian
terjadi?
Di hari pernikahan itu,
Yunus tampil percaya
diri. Ucapan ijab qabul
sudah dihafalnya
selama satu minggu
lebih. Tapi, keanehan
terjadi. Menjelang lima
menit akan
dilangsungkan acara
akad nikah, tiba-tiba
Yunus merasa ada
keanehan dalam dirinya.
Ya, Yunus merasa
seolah-olah berada
dalam kurungan penjara.
Suasana di sekitarnya
terasa gelap dan
pengap. Lidahnya kelu
tidak dapat digerakkan.
Ketika Naib
mengucapkan ijab,
“ Yunus, aku nikahkan
engkau dengan Delima
binti Rustam dengan
maskawin berupa cincin
seberat emas empat
gram. ” Yunus gagap
menjawabnya.
“ Sa...sa...sa...!” Dia tidak
dapat meneruskannya.
Ia hanya bisa berkata
seperti itu.
Naib kembali mengulangi
kalimat yang sama,
Yunus kembali
menjawab gagap
seperti jawaban
pertama. Hal itu terjadi
berulangkali bahkan
sampai ratusan kali.
Namun Yunus tetap
gagap tidak dapat
menjawab ijab qabul.
Badannya basah oleh
keringat dingin, dan naib
akhirnya menyerah.
“ Yunus...diguna-gunai
orang!” komentar,
ibunya sedih.
“ Siapa yang tega
mengguna-gunai Yunus,
Makcik ?” tanya anak
keponakannya.
“ Entahlah!” jawabnya.
Karena keadaan ini
akhirnya pelaksanaan
akad nikah ditunda.
Keluarga mempelai
wanita pergi ke rumah
seorang dukun untuk
meminta bantuan. Di
kampung itu, penduduk
memang tidak sulit
mencari dukun yang
dapat menghilangkan
pengaruh Guna-guna
Gagap Mulut.
Setiap ada kasus
seperti ini, Atok Uncu
diduga pelakunya.
Karena ialah yang ahli
mengerjakannya. Dia
yang membuatnya, dan
dia pula yang
menyembuhkannya.
Semua orang di
kampung ini sudah tahu.
Semuanya semata-
mata demi uang!
Oleh Atok Uncu, Yunus
dimandikan dengan air
berasal dari sembilan
sumur dan dicampur
dengan bunga sembilan
warna. Selesai
melakukan mandi air
bunga dan kodok dalam
tempurung dibebaskan,
acara akad nikah
kembali dilanjutkan.
Yunus merasa segar
dan percaya diri. Ijab
yang diucapkan wali
dapat dijawab dengan
lancar olehnya.
Kedua belah pihak
keluarga mempelai
merasa bergembira. Ibu
Yunus bahkan
melakukan sujud
syukur, karena akad
nikah telah terlaksana.
Kedua pasangan
pengantin baru telah
sah menjadi suami
isteri. Pukul 22.00, tidak
ada lagi tamu undangan
yang datang. Suasana di
tempat pesta terlihat
sepi. Hanya beberapa
orang saja yang masih
berjaga-jaga. Pasangan
pengantin baru sudah
berada dalam kamar.
Delima nampak malu-
malu mau. Yunus mulai
terlihat nakal. Jemarinya
liar menyentuh bagian
tubuh Delima yang
sangat sensitif. Delima
menepis tangan
suaminya.
“ Jangan malam ini,
Bang!” rengeknya,
manja.
“ Kenapa?” tanya Yunus.
“Masih banyak orang.
Malu di dengar mereka,”
jawab Delima
memberikan alasan.
“ Mereka semua sudah
tidur kelelahan.”
Yunus tidak
memperdulikan
permintaan isterinya. Ia
semakin agresif seperti
seorang gitaris
memainkan senar
gitarnya. Delima
akhirnya menyerah.
Serangan dari Yunus
dibalasnya. Nafasnya
naik turun dan dia sudah
siap untuk melakukan
permainan yang
sesungguhnya.
Tetapi, begitu Yunus
hendak melakukan
serangan pertamanya,
dia merasakan seolah-
olah berada diatas
batang kayu yang licin,
dan Mr. P nya seperti
daun layu. Berulangkali
dia terpeleset dari atas
tubuh Delima, jatuh di
sisi kanan atau sisi kiri
tubuh isterinya yang
elok itu. Hal ini terus
berulang kali hingga
subuh.
Malam itu, Yunus gagal
menjalankan
kewajibannya sebagai
seorang sumai. Dia
kecewa, dan Delima pun
sebenarnya merasakan
hal yang sama.
“Abang mungkin diguna-
gunai orang!” kata
Delima.
“ Siapa yang sampai hati
mengerjai Abang?”
“Abang tanya saja pada
Atok Uncu saja,” jawab
Delima. Dia
menyarankan agar
besok pagi pergi ke
rumah Atok Uncu.
Karena hanya hanya
kakek itu yang dapat
menghilangkan
pengaruh guna-guna
yang dialami Yunus.
Tapi, Yunus
mengabaikan saran dari
Delima. Dia berharap
malam kedua
perkawinannya tidak
lagi mengalami
peristiwa seperti
malam kemarin.
Ternyata, Yunus masih
juga mengalami
peristiwa yang sama.
Berulangkali Mr P-nya
harus tergelincir dan
terkulai tidak berdaya
saat menembus
benteng pertahanan
Delima. Yunus menjadi
frustasi. Dia seperti
seorang petinju KO di
sudut ring.
Guna-guna Layu Penis
bisa berlangsung
selama berminggu-
minggu. Bahkan bila
tidak diobati bisa
berlangsung sampai
setahun. Media yang
digunakan untuk guna-
guna ini adalah seekor
kodok yang sedang
birahi.
Setelah ditangkap,
kodok jantan diikat kaki
kirinya. Kodok betina
berada didepannya.
Dibuat jarak agar
kelamin kodok jantan
tidak bisa menyentuh
kelamin sang betina.
Setelah dibacakan
mantera, kodok itu
diletakkan dibawah
tempat tidur sang
dukun.
Kodok diibaratkan
pengantin laki-laki dan
perempuan sedang
berhubungan intim.
Dalam keadaan kaki
terikat, tentu kodok
jantan tidak dapat
menyalurkan nafsu
birahinya. Demikianlah
yang dialami Yunus.
“ Kalau aku tidak
menuruti saran isteriku
menemui Atok Uncu,
mungkin selamanya aku
tidak akan bisa
melakukan tugasku
sebagai suami, ” kenang
Pak Yunus dengan sorot
mata menerawang
masa lalunya.
Lima puluh tahun
kemudian dari
perkawinan mereka
berdua menghasilkan
sepuluh anak, empat
laki-laki dan lima
perempuan. Puluhan
orang cucu pun sudah
memanggilnya Kakek.
Kini, Yunus dan Delima,
isterinya, mencoba
menikmati kebahagiaan
hidup d ihari tua dalam
kesehajaan.
Menurut cerita Yunus,
guna-guna yang dulu
pernah dia alami
memang sudah langka.
Tidak banyak lagi orang
yang menguasainya.
Apalagi guna-guna
tersebut bersekutu
dengan Jin Kafir yang
menyesatkan.
Tingkat pendidikan
masyarakat semakin
tinggi membuat timbul
kesadaran untuk
berpikir secara realitis
dalam menghadapi
kenyataan. Selain itu, di
zaman sekarang ini
pandangan remaja
tentang cinta sudah
bergeser dari cinta suci
abadi menjadi cinta
materi dan birahi. Putus
cinta, kemudian mencari
cinta yang baru menjadi
hal biasa. Berbeda
dengan zaman dahulu.
Cinta dibawa sampai
mati.

DI PERKOSA JIN CANTIK DARI BAGHDAD

Biasanya, yang
memerkosa itu
adalah pihak laki-
laki. Tapi, dalam
kisah musykil ini ada
dua sosok jin
perempuan yang
nekad memperkosa
seorang lelaki dari
bangsa manusia.
Seperti apakah
jalinan kisahnya …?
Setelah merantau
sebagai TKI di Iraq,
negeri yang penuh
dengan desingan peluru
akibat konflik
berkepanjangan antara
warga Suni dan Syiah
pasca invasi AS dan
sekutunya, syukur
Alhamdulillah akhirnya
aku dapat pulang juga
ke Indonesia. Betapa
bahagia hatiku karena
bisa kembali ke tanah
kelahiran. Di kampung
halamanku, kedua orang
tua dan keluargaku
telah lama menantiku.
Sejak AS menyerbu Iraq
untuk menggulingkan
Saddam Hussein, bisa
dikatakan seluruh
keluargaku tidak bisa
tidur nyenyak. Mereka
begitu
mengkhawatirkan
keadaanku, yang hidup
di tengah-tengah
medan konflik
peperangan yang amat
panjang.
Sebulan sejak
kepulanganku, aku
menikahi seorang gadis
cantik. Gayatri namanya.
Dia adalah cinta
pertamaku sejak kami
masih sama-sama SMA
dulu. Walau selama
bertahun-tahun kami
berpisah, Gayatri tetap
setia menantiku. Dia
memang pernah
bersumpah untuk selalu
menantiku sampai
kapan pun. Gayatri telah
menepati janjinya.
Pesta pernikahan kami
sengaja kami
langsungnya dengan
sederhana. Setelah
menikah, dengan
tabungan yang
kudapatkan dari tanah
rantau, aku membeli
beberapa sawah, tanah
dan rumah yang
sederhana, juga sebuah
mobil angkut untuk
bekerja mencari
penumpang dari Ciledug
menuju Semanan,
Jakarta Barat, dan
sebaliknya.
Suatu hari, tepatnya 15
Oktober 2008 silam, aku
mendapat musibah.
Mobil angkot yang
kumiliki, tiba-tiba rusak
dan ngadat. Dengan
susah payah, aku
mendereknya ke
bengkel. Tepat saat
terik matahari
memanggang bumi, aku
bermandi peluh
mengurusi mobil yang
ngadat itu.
Karena mobil yang
ngadat, aku yang
biasanya bisa
mendapatkan uang
ratusan ribu rupiah
sekali tarik, hari itu
sama sekali tidak
berpenghasilan
sepeserpun. Bahkan
uang untuk belanja
isteriku juga tidak
terpenuhi. Naas benar
nasibku hari itu.
Ketika sampai di rumah,
hari sudah sore. Aku
menemukan kucing
kesayanganku terkapar
di depan pintu. Entah
kenapa kucing itu tak
bernyawa lagi. Aku
menduga dia makan
racun tikus di rumah
tetangga.
Saat aku tiba sore itu,
isteriku sedang
menidurkan buah hatiku
yang masih berumur
dua minggu. Karena
itulah dia tidak bisa
menyambut
kedatanganku seperti
biasanya.
Setelah mandi, aku
masuk ke kamar. Aku
memutuskan segera
tidur, dan mengunci
kamar tidurku dari
dalam. Isteriku yang
sudah kenal dengan
watakku semenjak
SMA, memahami
gelagat yang kurang
baik. Ia tahu, suaminya
sedang gundah dan
tidak mau diganggu.
Bahkan terpaksa
melepas shalat Maghrib
dan Isya.
Malam telah larut, seisi
rumah di sisi jalan tol
Jakarta – Merak itu
telah terbuai mimpi
masing-masing. Anak
semata wayangku yang
biasanya rewel, malam
itu pun tenang dalam
dekapan ibunya.
Sementara di kamar
ruang tengah,
tempatku tidur dengan
mengunci diri, aku
merasa ada sesuatu
yang semakin aneh.
Antara sadar dan tidak,
aku melihat pintu
kamarku terbuka. Tak
lama setelah itu, kulihat
dua sosok wanita
berwajah cantik
melangkah gemulai
menghampiri danjang
tua tempat aku
terbaring.
Di mataku, salah
seorang wanita yang
berjalan di depan adalah
Maryam, nyonya
majikanku saat aku
bekerja di Iraq sana. Di
belakangnya adalah
Umi, puteri tunggal
Nyonya Maryam yang
cantik jelita. Aku sendiri
masih bingung mengapa
tiba-tiba kedua wanita
itu ada di hadapanku.
Dengan senyum
menggoda, dua wanita
itu mendekati tempat
tidurku. Kemudian duduk
di bibir ranjang.
Anehnya, di saat yang
aku tak lagi merasakan
kalau saat itu ada di
dalam kamar rumahku
yang temboknya belum
diplester. Kamar itu
sepertinya begitu indah,
harum semerbak. Kedua
wanita itu juga begitu
menggodaku.
Singkat cerita, terjadilah
hubungan intim seperti
laiknya suami isteri.
Dengan jantan aku bisa
memuaskan kedua
wanita itu.
Beberapa saat setelah
persetubuhan itu, aku
merasa sangat lelah
dan kehabisan tenaga.
Aku mengira, kedua
wanita itu benar-benar
bekas bosku di Iraq
sana. Tapi, apa
mungkin?
Pagi harinya, aku
terduduk lemas di
pinggir ranjang,
mencoba mengingat-
ingat peristiwa yang
baru terjadi. Dan aku
mencoba meyakinkan
diriku sendiri, bahwa
kejadian itu hanyalah
mimpi. Tapi, betapa
kagetnya diriku, saat
sekujur tubuhku
telanjang bulat dan
tidak ada sehelai kain
pun yang menutupinya.
Sarung dan celana
dalam yang semalam
aku kenakan, sudah
terlepas dan berserakan
di atas tempat tidur.
Aku ragu, apakah yang
barusan kualami adalah
sebuah mimpi?
Aku mencoba
meluruskan kedua
kakiku. Kuamati seluruh
tubuhku sampai pada
bagian bawah perut. Di
saat melihat (maaf)
bagian sensitif di
selengkanganku aku
pun dibuat terkejut.
Bagaimana tidak?
Karena kulihat bulu-bulu
kemaluanku hilang,
bersih seperti dicukur
plontos.
Akhirnya aku yakin,
peristiwa itu adalah
nyata. Aku yakin,
Maryam dan Umi benar-
benar datang ke kamar
dan melakukan semua
itu. Buru-buru aku
bangkit dan keluar dari
dalam kamarku.
“ Ayah! Apa-apaan
kamu ini?” tanya
isteriku terperanjat.
Aku yang terkejut
bingung beberapa saat,
sampai akhirnya aku
sadar. Ternyata, ketika
keluar kamar aku masih
dalam keadaan polos,
tak secuil kain pun
menutupi tubuhku.
Untung di dekat pintu
ada handuk yang
tersangkut di kursi
makan. Segera saja aku
menyambar handuk
tersebut dan
melilitkannya di
tubuhku.
“ Memangnya ada apa,
ayah menggedor-ngedor
pintu dan berkelakuan
aneh seperti itu ?” tanya
isteriku lagi.
“ Aneh...aneh gimana.
Kamu itu yang aneh.
Mana tamu kita ?’ aku
malah balik bertanya.
“ Tamu siapa?” Gayatri
menatapku.
“ Tuan puteri Maryam
dan anak gadisnya.
Mereka mencukur bulu
kemaluanku ?”
“Apa? Mereka mencukur
bulu anumu? Bulu
apaan? Ayah yang
bercanda, mana
mungkin nyonya besar,
bekas juragan ayah
datang ke sini hanya
untuk mencuku bulu
anumu? Lagian jarak
Iraq dan Indonesia itu
sangat jauh. Ayah
jangan bercanda, masih
pagi, ” jawab isteriku
merepet seperti
petasan.
Mendengar jawaban
Gayatri, aku semakin
dibalut oleh rasa heran.
Mendadak pikiranku
melayang tak karuan,
bulu kudukku berdiri
meremang disertai
munculnya keringat
dingin.
“ Jangan-jangan ada
makhluk halus yang
menjelma menjadi
nyonya dan anaknya.
Dan mereka
memaksaku untuk
melakukan hubungan
itu. Aku benar-benar
tidak tahu, ” kataku
dalam hati.
Dalam keadaan bingung,
aku menuju kamar
mandi untuk mandi
junub. Ketida sedang
jongkok untuk buang air
kecil, aku merasa ada
yang aneh. Air seni yang
keluar membuyar
kemana-mana,
mengenai kedua
pahaku.
Kemudian aku
mengambil air segayung
untuk
membersihkannya. Kali
ini aku benar-benar
kaget dan nyaris
pingsan. Tangan kiri
yang kugunakan untuk
membersihkan penisku,
tidak menemukan apa-
apa. Benda milikku yang
paling berharga itu telah
hilang entah kemana.
“ Ya Allah, apa yang
terjadi denganku?”
cetusku dalam hati.
Lalu, aku berteriak
memanggil
isteriku, ”Gayatri, lihatlah
kemari!”
Gayatri datang. Dia
mendorong pintu kamar
mandi dan terpana
melihatku.
“ Alat vitalku benar-
benar tidak ada, seperti
terdorong masuk ke
dalam. Bahkan aku
merasa ada kekuatan
yang menarik-nariknya
dari dalam, ” ucapku lirih.
Gayatri berubah pucat
wajahnya.
Sejak kejadian itu, aku
berubah menjadi
pemurung. Jujur saja,
aku sangat terpukul
sekali dan berubah
menjadi pemarah. Tidak
berselara makan,
bahkan malas
melakukan sholat.
Pikiranku kalut, tidak
tenang dan terombang-
ambing. Aku sering
dihantui bayang-bayang
yang berkelebat, dan
suara-suara aneh dalam
bahasa Arab.
Berhari-hari aku tidur
sendirian, tidak mau
ditemani oleh siapapun,
bahkan oleh isteriku.
Selama 20 hari, aku
mengalami tekanan
psikologis yang
dahsyat, meski secara
fisik, aku tampak sehat
dan baik-baik saja.
Artinya, aku masih
dapat melaksanakan
kewajiban menarik
angkot, walaupun
hanya sebentar.
Anehnya, seiring dengan
itu penghasilanku malah
meningkat dua kali lipat
dibanding penghasilan
sebelumnya. Entah apa
yang terjadi
sebenarnya.
Untuk memulihkan
keadaanku, maksudnya
agar kejantananku
kembali normal, aku dan
Gayatri sudah
mendatangi beberapa
orang pintar untuk
minta bantuan. Menurut
Bapak S, seorang
paranormal dari
Cengkareng, Jakarta
Barat, menyatakan
bahwa aku masih
berada di bawah
pengaruh jin yang
memperkosaku. Dia
menyebut jin itu datang
dari Baghdad dab sudah
lama nengincarku.
Kemudian, si paranormal
yang ahli Ilmu Hikmah ini
memberi air yang sudah
di doakan olehnya. Aku
dianjurkan agar
beristighfar sebanyak
1000 kali sehari
semalam.
“ Kalau Anda sudah
minum air ini dan
mengamalkan Istighfar,
insya Allah, berangsur-
angsur Anda akan
kembali tenang, mampu
mengendalikan jin-jin
itu, tetapi alat vital
belm normal seperti
dulu, ” kata paranormal
itu.
Seminggu setelah itu,
ternyata tidak ada
perubahan yang cukup
berarti, kemudian
mertuaku membawaku
ke Pandeglang, Banten.
Dia pernah mendengar,
di sana ada seorang haji
yang mampu
menangani kasus-kasus
seperti yang kualami.
Singkat cerita, aku pergi
ke Pandegleng dan
berobat pada Haji
dimaksud. Haji tersebut
memberiku air putih
yang dicampur dengan
garam halus. Setelah
dibacakan doa-doa,
sebagian air itu
kuminum dan
sebagiannya lagi
disiramkan di sekitar
halaman rumahku.
Setelah tiga hari,
kondisiku kembali
normal. Akupun bisa
tersenyum lepas.
Kemudian mertuaku
menganjurkan agar aku
melakukan selamatan
kecil-kecilan sebagai
tanda syukur atas
terhindarnya diriku dari
godaan jin yang berasal
dari Baghdad, negeri
seribu satu malam.
Kisah ini memang
hampir-hampir musykil.
Tapi, aku sungguh-
sungguh mengalaminya
beberapa waktu lalu.

TUJUH TAHUN DALAM CENGKRAMAN SANTET POLONG

Kisah ini dialami oleh
seorang wanita
berinisial FN. Tujuh
tahun lamanya dia
dalam pengaruh ilmu
hitam dari Tanah
Karo ini. Tercatat
sembilan belas orang
pintar dan kyai,
pernah berjuang
untuk mengeluarkan
tiga makhluk gaib
yang bersemayam
dalam tubuhnya.
Penderitaan yang
berkepanjangan
tersebut, akhirnya
berakhir setelah dia
berumahtangga….
Kisah ini, bermula saat
kepindahanku dan
keluarga ke lingkungan
Pondok Batuan, Kel.
Tanjung Sari, Kec.
Medan Selayang, Kota
Medan, Sumatera Utara.
Peristiwa ini terjadi
delapan tahun lalu. Saat
itu, aku masih duduk di
bangku kelas 3 SMP,
tepatnya di SMPN 41
Medan. Di sekolah, aku
dipercaya sebagai
sekretaris OSIS. Maklum
saja, aku memang
sangat hobi
berorganisasi.
Sekitar dua minggu
tingal di Tanjung Sari,
aku berkenalan dengan
Kak Daning, tetanggaku,
yang kemudian menjadi
saudara angkatku.
Waktu itu, dia sudah
duduk di bangku kelas 2
SMU.
Suatu ketika, Kak
Daning mengajakku
bergabung di Remaja
Masjid di lingkungan
kami, yaitu Ikatan
Remaja Masjid (IRMA) Al
Ikhlas. Ajakan ini tak
mampu kutolak. Malam
Rabu itu, aku resmi
menjadi anggota IRMA
di kampungku. Aku pun
berkenalan dengan
sesama teman yang
bergabung di organisasi
ini.
Sudah menjadi tradisi
bagi anak-anak yang
bergabung di IRMA. Jika
ada anak perempuan
yang baru menjadi
anggota, maka tak
jarang anak laki-laki
berusaha merebut
hatinya. Termasuk pula
aku. Baru saja menjadi
anggota IRMA, malam
itu aku diantar oleh
banyak anak laki-laki.
Jadilah aku layaknya
kembang desa. Tiap
pulang dari masjid, anak
laki-laki banyak yang
mencoba mencari
perhatianku dengan
mengantarku pulang ke
rumah. Namun, tak
sedikitpun aku
menggubris mereka.
Di antara sekian banyak
anak laki-laki yang
mencoba mengambil
hatiku, ada seorang
pemuda yang sebut
saja dengan inisial WN.
Ternyata, diam-diam
WN memendam rasa
cinta kepadaku.
WN memang anak
orang terpandang di
tempat tinggalku.
Ayahnya seorang
mantan pejabat di salah
satu intansi pemerintah.
Tapi yang disayangkan,
Ibu WN yang sudah
bertitel haji diisyukan
bersekutu dengan jin.
Ibu WN yang akrab
disapa Bu Haji ini
kebetulan teman
pengajian mamaku.
Setidaknya ada empat
kali WN melayangkan
surat cintanya
kepadaku. Aku pun
kaget bukan kepalang.
Dia yang sepatutnya
menjadi abang bagiku,
karena usianya jauh
lebih tua, ternyata
memiliki maksud lain.
Aku pun menolaknya
mentah-mentah. Bukan
saja karena aku tak
menyukainya, tetapi
usiaku pun masih
terbilang bau kencur. Ya,
waktu itu aku baru 15
tahun.
Rupanya,
keganderungan WN
padaku diketahui oleh
ibunya. Suatu hari, sang
ibu mengirimkan
makanan berupa gulai
ikan kakap ke rumahku.
Mulanya, tak ada
perasaan curiga
sedikitpun dari kami
sekeluarga. Kami juga
tidak menaruh curiga
ketika Ibu WN berulang
kali mengirimkan
hantaran makanan ke
rumahku.
Anehnya, seminggu
setelah hantaran
makanan keluarga WN
yang terakhir, aku
justru menjadi teringat
dan selalu
membayangkan
pemuda yang semula
kubenci itu. Entah
bagaimana awalnya,
perasaanku selalu saja
ingin bertemu
dengannya.
Seminggu kemudian,
WN menyatakan
perasaannya lagi
kepadaku melalui
sepucuk surat. Kali ini,
aku tak kuasa
menolaknya. Sejak saat
itu, WN sering
menghubungiku. Bahkan
hampir tiap malam dia
menelponku.
Untuk menerima telpon
dari WN, aku harus
sembunyi-sembunyi.
Aku pun terpaksa tidur
di kamar belakang agar
dapat menerima setiap
panggilan telpon darinya.
Karena cintaku pada
WN, belajar ku pun
akhirnya mulai
terganggu. Kedua
orangtuaku tidak
mengetahui apa yang
sedang menimpaku.
Saat kelulusan,
prestasiku benar-benar
jatuh. Biasanya rangking
pertama, sekarang
mendadak jatuh ke
peringkat tiga.
Mama pun curiga. Dia
berusaha mencari tahu
penyebabnya. Apalagi
mama sangat berharap
aku bisa diterima di
sekolah favorit di kota
ini, yaitu SMUN 1 Medan.
Aku pun menceritakan
perasaanku kepada
mama. Mendengar
pengakuanku, mama
sangat terkejut, dan
menentang keras.
Sejak saat itu telepon
genggam diambilnya.
Aku pun seperti dipingit,
tidak boleh keluar
rumah. Sementara itu,
lambat laun WN dan
ibunya tahu dengan
sikap kedua orang
tuaku. Karena
kenyataan ini, Ibunya
WN nampaknya
menaruh dendam
kesumat.
Suatu hari, melalui
perentaraan salah
seorang temannya, WN
menyampaikan pesan
yang berisi
memutuskan hubungan
antara kami berdua.
Mendengar
keputusannya yang
tiba-tiba, aku terkejut
bukan kepalang. Hatiku
benar-benar hancur.
Aneh, memang!
Padahal, hubungan kami
saat itu hanya seperti
cinta monyet. Tapi
kenapa saat itu aku
seperti tengah
kehilangan orang yang
sangat berarti dalam
hidupku. Aku selalu
teringat WN. Parahya
lagi, aku mulai terbiasa
meninggalkan sholat.
Aku juga mulai
kehilangan gairah hidup.
Semua keluargaku,
termasuk Kak Daning,
kakak angkatku yang
mengajakku bergabung
ke IRMA, merasa heran
dengan keadaanku yang
jauh berubah. Karena
curiga, papa dan mama
membawaku ke orang
pintar di kawasan
Polonia, Meda. Menurut
paranormal tersebut,
aku terkena pelet.
Setelah meminum air
putih yang diberikannya,
keadaanku berangsur-
angsur membaik. Aku
pun dapat melupakan
WN.
Tanpa disangka dan
dinyana, pada saat
perayaan ulang tahunku
yang ke-17 WN muncul
sebagai tamu tak
diundang. Dia
memberikan kue ulang
tahun untukku. Begitu
juga dengan ibunya WN.
Dia memberi hadiah
berupa bahan kain dan
satu gelang perak.
Karena takut terjadi
sesuatu, semua
pemberian itu tidak
kusentuh sedikitpun.
Kue pemerian WN
mama berikan kepada
orang lain. Sedangkan
bahan kain untuk
membuat baju serta
gelang tersebut, dibakar
oleh mama dan papaku.
Setahun kemudian,
tepatnya saat aku
duduk di kelas tiga SMU,
aku sudah akrab dengan
RK, seorang siswa yang
merupakan personil
band di sekolahku.
Perasaan cinta remaja
pun tumbuh secara
alamiah. Mungkin karena
itu, aku pun semakin
bersemangat dan
termotivasi belajar.
Sama sekali tak kuduga,
rupanya hubunganku
dengan RK tercium oleh
ibunya WN. Wanita yang
akrab di sapa Bu Haji ini
agaknya kembali
membuat ulah dengan
dibantu para dukunnya.
Efeknya, aku pun sering
jatuh pingsang di
sekolah. Tak terhitung
lagi betapa seringnya
aku mengalami hal ini.
Aku bahkan pernah
dibawa pihak sekolah ke
salah satu rumah sakit
di kota Medan untuk
diperiksa kondisi
kesehatanku. Hasil
pemeriksaan dokter
menyatakan aku tidak
terkena penyakit apa-
apa.
Karena kejadian ini,
mama kembali
mengajakku ke tempat
Pak Harahap,
paranormal yang dulu
menyembuhkan
penyakitku. Orang pintar
ini bilang, aku kembali
terkena pelet. Menurut
dia, pelet itu berawal
dari makanan, pakaian,
juga benda-benda
lainnya yang aku terima
dari si pengirim pelet.
Syukur Alhamdulillah
Pak Harahap kembali
menyembuhkanku.
Setamat SMA, aku pun
berpisah dengan RK,
sebab dia melanjutkan
kuliah di UGM, Yogya.
Aku sendiri diterima di
salah satu Universitas
Negeri di kota lain yang
masih dekat dengan
kotaku.
Menginjak semester 2,
aku mulai kerasukan
lagi. Berawal, pada
suatu malam, aku
seperti melihat sosok
kuntilanak yang sedang
berjalan di depan
kamarku. Esok paginya,
aku menemukan
kotoran manusia persis
di sebelah jendela
kamarku. Nampaknya,
ada yang sengaja
mengirimkannya.
Jam dua siang, aku
kembali kerasukan.
Seketika itu, pikiranku
tertuju pada sosok WN.
Anehnya, menurut
cerita keluarga, saat
tak sadarkan diri, aku
mengeluarkan suara
tawa seperti laiknya
ketawanya kuntilanak.
Bahkan, aku juga
terkadang berbicara
dalam bahasa China.
Beberapa hari
selanjutnya, aku pun
bertingkah seperti
seperti laiknya seekor
ular. Memang, dalam
pandanganku, aku
melihat seekor
berwarna hijau dan
panjang.
Tak hanya itu, di saat
yang lain, aku juga
mengeluarkan suara
Begu Ganjang, hantu
khas Tanah Karo.
Menakutkan sekali.
Sejak saat itu, hari-
hariku ditemani
kerasukan makhluk
halus. Aku sempat
divonis salah satu
anggota keluargaku
menderita sakit syaraf.
Sampai suatu hari
setelah Idul Fitri, saat
bersilaturahmi ke rumah
nenekku di bilangan
Tanjung Mulia, Belawan,
Medan, aku kembali
diganggu makhluk-
makhluk gaib tersebut.
Untunglah Mbahku
punya pegangan ilmu
gaib. Saat keluargaku
turun dari mobil, aku
justru tidak bisa keluar
dari mobil, apalagi
berjalan. Sepertinya,
makhluk-makhluk gaib
itu tahu kalau aku akan
singgah di rumah orang
yang berilmu.
Papa terpaksa
menggendongku.
Anehnya, tatkala
memasuki rumah Mbah,
menurut cerita
keluargaku, mendadak
saja aku tertawa
cekikikan mirip
kuntilanak. Mbah yang
sepertinya faham
dengan keadaanku,
berusaha melakukan
komunikasi dengan
makhluk yang
bersemayam dalam
tubuhku. Beginilah cerita
yang dituturkan mama
padaku:
“ Kenapa kamu begitu?”
tanya Mbah.
Aku pun meronta-ronta
seperti sedang
kesakitan. Mbah pun
melanjutkan
pertanyaannya. “Siapa
yang melakukan
perbuatan terkutuk ini?”
Sang makhluk gaib pun
menjawab singkat, “Bu
Haji!”
“Darimana asalmu?”
tanya Mbah.
Dengan tegas, makhluk
itu menjawab, “Aku
datang dari Tanah
Karo !”
“Apa maksudmu?”
tanya Mbahku lagi
sambil matanya
melotot.
“ Aku akan
menghancurka
hidupnya! Aku dendam,
makanya jadi
perempuan jangan
sombong !” jelas sang
makhluk, jujur.
“ Dia tidak mau
menerima cinta
anakmu ?” Mbah pun
kembali mengorek
keterangan darinya.
“ Lalu kau ini siapa?”
tanya Mbah pula.
“ Aku Begu Ganjang,
suruhan Bu Haji!”
jawabku dengan
lantang.
Mendengar dialog Mbah
dengan makhluk yang
merasuki tubuhku,
mama, papa dan
keluarga benar-benar
terkejut. Mama
menangis. Pantaslah,
apa yang mama dan
papa curiga selama ini,
bahwa Bu Haji-lah biang
keladinya.
Mbah dengan paksa
mengeluarkan makhluk
tersebut dengan sebilah
keris keramat miliknya.
Sang Begu Ganjang dan
kuntilanak dalam
tubuhku pun menjerit
keras. Sejurus
kemudian, mereka pun
pergi dari jasadku walau
hanya utnuk beberapa
lamasaja....
Sialnya, di tengah
perjalanan pulang dari
rumah Mbah, aku
kerasukan lagi. Setelah
menelepon Mbah, beliau
menyarankan agar aku
dibawa ke tempat
Buya, seorang guru ngaji
di daerah Polonia. Buya
berusaha mengeluarkan
makhluk-makhluk itu
lagi. Ketika ditanya oleh
Buya, lagi-lagi jawabnya
sama, yakni Bu Haji.
Setelah diobati oleh
Buya, akupun pingsan
sampai keesokan
harinya. Buya
memberiku sebuah
cincin untuk pegangan.
Karena masih dalam
suasana lebaran,
keesokan hariya aku
kembali diajak
bersilaturahmi ke
tempat keluarga mama
di Diski, Binjai.
Siang hari yang terik itu,
tepatnya pas azan
Dzuhur, aku kerasukan
lagi. Aku kembali diobati
oleh orang pintar di
sekitar tempat tinggal
saudara mamaku. Aku
disuruh mandi kembang
besoknya, serta
menyediakan benang
tujuh warna dan
kembang tujuh rupa.
Benang tersebut
kemudian dirajah sang
dukun perempuan itu,
untuk diletakkan di
pinggangku.
“ Benang tersebut tidak
boleh dibuka atau
dilepaskan sebelum kau
menikah, ” suruh sang
nenek. Dia juga
mengingatkan, jika
keluarga Bu Haji
memberikan makanan
atau apapun, maka
jangan sekali-kali
diterima.
Setelah diobati sang
nenek, aku memang
sembuh. Selepas liburan
panjang, aku pun
kembali ke kota
tempatku kuliah.
Ringkasan cerita,
menjelang semester
empat, ada seorang
laki-laki yang suka
padaku. Namanya sebut
saja dengan inisial HF.
Tatkala HF menyatakan
perasaannya kepadaku,
beberapa waktu
kemudian, aku mulai
kerasukan lagi. Bahkan,
saat HF mengunjungiku
di rumah Tante Erni,
tempatku tinggal di
kota itu, entah syetan
apa yang merasukiku,
tibat-iba aku mengusir
HF.
Sampai akhirnya, aku
kembali diobati oleh
orang pintar. Kali ini,
yang mengobatiku
adalah Bu IT, seorang
ibu dari teman kuliahku
yang kebetulan biasa
mengobati orang-orang
kerasukan. Bu IT
menyuruh keluargaku
membuka tali benang
yang ada di pinggangku,
berikut cincin yang
diberikan Buya tempo
hari. Alasannya, benda-
benda tersebut justru
mengikat makhluk-
makhluk halus sehingga
tetap berada di
tubuhku.
Malangnya, setelah
kedua benda bertuah itu
dilepaskan dari tubuhku,
justru penyakitku
semakin parah. Aku
malah kerasukan lagi
selama lebih dari satu
minggu. Selama itu pula,
ada sembilan orang
pintar yang mencoba
mengobatiku dengan
berbagai macam cara
yang tidak masuk akal.
Salag satunya
menyuruhku merangkak
seperti binatang.
Sampai akhirnya, Tante
Erni menemukan orang
pintar di pedalaman
hutan yang jauh dari
kota. Orang tersebut
menyuruh mamaku
mengambil kopi pahit,
bawang putih dan daun
kelor untuk dimandikan
di sekujur tubuhku. Pada
saat mengobatiku,
orang tua ini mendapat
serangan bertubi-tubi
dari makhluk jahat yang
bersemayam di
tubuhku.
Atas saran orangtua ini,
mama dan papa
diperintahkan untuk
berdzikir semalam
suntuk membantu
pengobatanku. Katanya,
kalau mendengar
bisikan atau sesuatu
yang aneh jangan
dihiraukan agar
pengobatanku berhasil.
Diceritakan, sekitar
pukul dua dinihari,
mama dan papa
mendengar suara
letupan diatas atap
rumah. Namun mereka
tetap berdzikir. Seiring
dengan suara letupan
tadi, orang tua yang
mengobatiku juga
mendapat hantaman
sehingga dadanya
mendadak sakit.
Besoknya, orang tua
tersebut mencari
benang tujuh warna. Dia
juga menyiapkan bunga
macan kerah, bunga
tujuh rupa dan daun
jengkol. Semua
digunakan untuk
memandikanku.
Syukur Alhamdulillah,
setelah pengobatan ini
aku dapat kembali
menjalankan
aktivitasku sehari-hari.
Sekitar lima bulan
kemudian, aku
berkenalan dengan
seorang calon dokter
berinisial FS. Begitu
gembiranya aku tatkala
dia berniat melamarku.
Namun, saat FS mau
lamaranku, maka begitu
banyak halangan yang
menghadang hingga
orangtuaku tidak
mengijinkan
hubunganku dengan FS.
Karena kecewa aku
histeris hingga aku
jatuh pingsan. Tekanan
darahku hanya di angka
40. Hal ini membuat
semua dokter yang
merawatku terkejut.
Mereka sangat tidak
menyangka dengan
tekanan darah yang
sangat rendah itu aku
masih bisa bertahan
hidup, bahkan kemudian
sehat kembali.
Kejadian aneh terus
saja menimpaku. Saat
aku menjadi panitia
OSPEK di kampus, aku
kembali kerasukan. Aku
dibawa pulang ke rumah
oleh teman-temanku. Di
rumah, selama tiga hari
berturut-turut aku
terus kerasukan.
Keluargaku kembali
memanggil orang pintar
yang berada di
pedalaman yang pernah
mengobatiku beberapa
waktu lalu.
Namun, kali ini tak
berhasil membuatku
sembuh. Karena itulah
aku kemudian diobati
oleh Ustadz AP namun
juga tak kunjung
sembuh.
Di Medan, aku juga
sempat diobati oleh Pak
Sabirin yang tinggal
dibilangan Tanjung Sari.
Oleh Pak Sabirin, aku
dimandikan dengan
bunga kembang macan
kerah selama tiga hari
berturut-turut. Setelah
ritual pun digelar. Pak
Sabirin mencoba
mengeluarkan makhluk
jahat yang
bersemayam di
tubuhku. Makhluk yang
telah mendarah daging
tersebut yang pertama
berupa siluman ular.
Mama dan papa turut
menyaksikan proses
penarikan makhluk itu.
Tiga hari kemudian, aku
kembali diobati Pak
Sabirin. Malam terakhir,
setelah mandi, orang
tuaku diperintahkan
untuk menjagaku agar
aku tidak disetubuhi
oleh Begu Ganjang.
Di malam terakhir ini,
antara sadar dengan
tidak, tiba-tiba
pandanganku gelap.
Sepertinya ada yang
mau menindihku.
Astaghfirrullah! Aku
melihat makhluk yang
sangat menakutkan.
Tubuhnya hitam
berbulu, dan dia
berusaha menindihku.
Aku pun menjerit.
“ Jangan!”
Teriakanku ini membuat
cemas papa dan mama.
Mereka segera
membacakan ayat
Qursyi berulang-ulang
untuk melindungiku.
Hingga akupun terjaga,
dan tidak tidur sampai
pagi.
Esok paginya, kami
datang ke tempat Pak
Sabirin. Ritual pengusiran
Begu Ganjang pun
digelar. Sang Begu
mencoba melawan Pak
Sabirini.
“ Aku tidak mau pergi!
Karena aku telah diberi
makan oleh majikanku,”
tolak sang makhluk.
“ Siapa majikanmu?”
tanya Pak Sabirin.
“ Aku sudah berjanji
dengan Bu Haji, kalau
aku pergi dari tubuh
anak ini, maka aku akan
mati! Tetapi,
sebaliknya, jika aku
bertahan dalam tubuh
anak ini, maka dia tidak
akan bertahan hidup
lama, ” lata Begu
Ganjang seolah-olah dia
Tuhan.
Tiba-tiba suaraku
mendadak berubah
menjadi seorang
perempuan. Menurut
cerita mama, itu suara
kuntilanak yang
memakai tubuhku.
“ Sebenarnya aku
kasihan dengan anak ini.
Hidupnya terombang-
ambing bahkan
terancam mati!
Jodohnya tertutup!
Inilah perjanjian kami
dengan majikan kami.”
Mendengar pengakuan
dua makhluk tak kasat
mata ini, Pak Sabirin
tertawa seolah
mengejek mereka.
“ Banyak kali cakap kau
ini!” katanya dengan
logat Medan. “Cepatlah
kau pigi, atau aku
keluarkan kau dengan
paksa !”
Begu Ganjang pun
berontak dan
mengultimatum, “Aku
tidak akan keluar! Aku
selamanya akan ada
dalam tubuh anak ini !”
Mendengar ancaman
tersebut, Pak Sabirin
pun menyangkal,
“ Makhluk bodoh!
Sebentar lagi
majikanmu akan jatuh
miskin dan melarat
akibat perbuatannya
sendiri. Dan kau tidak
akan diberi makan lagi
olehnya. Dan santet
yang ada di tubuh anak
ini akan kukembalikan
padanya. ”
Akhirnya, Pak Sabirin
berhasil mengeluarkan
dua makluk tersebut.
Alhamdulillah, aku pun
kembali pulih. Aku dapat
mengikuti ritual mandi
kembang selama tiga
hari. Hari keempat, aku
kembali datang ke
tempat Pak Sabirin
untuk mencabut
pengaruh santet.
“Bu Haji menggunakan
media foto anak ini dan
sebuah boneka kecil, ”
jelas Pak Sabirin
kepadaku, mama, juga
papa.
“ Santet apa gerangan
yang melanda puteri
saya ?” tanya mamaku.
Pak Sabirin menjelaskan
dengan rinci, “Inilah
yang namanya Santet
Polong. Makhluk-
makhluk ini memang
sudah mendarah daging
dalam tubuh anak ibu.
Kalau pun nantinya
sembuh, dia rentan
kena santet, pelet dan
sejenisnya. Kecuali
pagar dirinya cukup,
rajin sholat dan
meminta perlindungan
kepada Allah SWT.”
Singkat cerita, seperti
kata pepatah: “Barang
siapa yang menanam,
maka dialah yang akan
menuai hasilnya. ”
Sekecil biji zarahpun
perbuatan manusia,
niscaya Allah SWT akan
membalasnya. Itulah
kenyataan yang terjadi
kemudian. Bu Haji, kini
hidupnya melarat.
Banyak sekali musibah
yang menimpa
keluarganya. Kabarnya,
Bu Haji pun sering jatuh
sakit.
Itulah pembalasan dari
Allah SWT terhadap
manusia yang
mendzalimi sesamanya,
bahkan melakukan
perjanjian dan
bersekutu kepada iblis.
Semoga kita semua
dapat bercermin dari
kejadian ini.
Dan kini, saat
menuturukan kisah ini,
Alhamdulillah, aku telah
menjalani hidup
berumah tangga. Aku
menikah di penghujung
2007 lalu. Dengan
demikian, tepat tujuh
tahun aku dalam
nestapa akibat
kekuatan setan Santet
Polong.
Suamiku adalah seorang
ustadz. Dia senantiasa
membimbingku untuk
memohon perlindungan
kepada Allah SWT. Kami
pun tengah berbahagia
menanti kelahiran sang
buah hati. Dengan
sholat dan banyak
membaca Al-Qur ’an,
semua hambatan gaib
yang menimpa diriku,
Alhamdulillah sudah
dapat kulalui dengan
selamat.